Merajut Cinta Dengan Kata. (bag 1)


Merajut Cinta Dengan Kata. (bag 1)

Keharmonisan adalah salah satu pondasi utama bagi kelangsungan hidup berumah tangga. Dengannya terwujudnya kaharmonisan, rumah tangga terasa indah, sehingga dari hari ke hari suami semakin merasakan rumah  tangganya semakin indah, dan istrinya juga merasakan hal yang serupa. Bila keharmonisan telah terwujud, maka rumah tangga terasa indah seindah surga.  Allah Ta’ala berfirman:

(َمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.([1])

 

Wajar bila setiap insan mendambakan terwujudnya keharmonisan dalam rumah tangganya. Namun demikian, betapa banyak rumah tangga yang gagal mewujudkannya? Rumah tangga mereka lebih sering dihiasi oleh percecokan yang menjadikannya terasa gersang.

 

Fakta ini membuktikan bahwa sekedar menginginkan atau mencita-citakan keluarga yang harmonis tidaklah cukup. Akan tetapi keharmonisan berumah tangga haruslah diupayakan dengan sungguh sungguh oleh setiap pasangan suami dan istri.

 

Berbicara tentang keharmonisan rumah tangga, maka sudah barang tentu rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rumah tangga yang paling harmonis, sebagaimana tergambar pada pengakuan beliau berikut ini:

)خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي(

Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik dalam bergaul dengan keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik pergaulannya dengan keluargaku. ([2])

 

Karena itu betapa pentingnya bagi kita untuk mempelajari kiat-kiat yang beliau lakukan dalam mewujudkan keharmonisan dalam rumah tangganya. Rumah tangga beliau senantiasa harmonis, walaupun berbagai dinamika kehidupan semisal rasa cemburu, dan perselisihan pendapat juga terjadi dalam rumah tangganya. Namun demikian, semua itu, tidak dapat mengurangi apalagi merusak keharmonisan rumah tangganya.

 

Dalam berbagai referensi hadits dan sirah, banyak dikisahkan perihal kiat-kiat beliau dalam membangun rumah tangganya sehingga senantiasa harmonis. Dan diantara kiat yang beliau jalani dalam membangun rumah  tangganya sehingga senantiasa harmonis ialah dengan berkomunikasi secara baik dan santun.

 (وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا) الإسراء 32

Imam Ibnu Katsir rahimahullah  berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan hamba dan rasul-Nya ‘alaihissalam untuk memerintahkan hamba-hamba Allah yang beriman agar berkomunikasi dan berdiskusi dengan tutur kata yang terbaik dan memilih kata-kata yang baik pula. Karena bila mereka tidak mengindahkan perintah ini, niscaya setan dengan mudah mengadu-domba mereka. Akibatnya, yang bermula dari ucapan berlanjut menjadi tindakan, dan terjadilah pertikaian, sengketa dan peperangan.”  (Tafsir Ibnu Katsir 3/59)

 

Melalui komunikasi yang baik, beliau dapat menyampaikan pesannya dengan cepat dan berbagai permasalahan rumah tangga dapat diselesaikan. Bahkan dengan komunikasi beliau yang baik kebencian dapat berbalik menjadi cinta dan kesetiaan.

 

Kondisi ini membuktikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

( إن من البيان لسحرا أو إن بعض البيان لسحر )

“Sesungguhnya sebagian penjelasan (tutur kata) itu sungguhlah dapat menimbulkan efek bak efek ilmu sihir”. ([3])

Pada kesempatan ini saya mengajak pembaca untuk menyelami lautan hikmah dari kisah komunikasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Shafiyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha sebagai data utama penelitiannya.

 

Kisah Komunikasi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Shafiyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha.

Seusai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menundukkan Yahudi Khaibar, beliau memilih Shafiyah bintu Huyai sebagai tawanan perangnya. Pada peperangan ini, ayah Shafiyah yaitu Huyai bin Akhthab, suaminya yaitu Kinanah bin Ar Rabi’ bin Abi Al Huqaiq, saudara kandungnya dan juga karib kerabatnya yang lain terbunuh.

 

Kondisi ini tentu menyisakan duka pada diri Shafiyah yang sangat mendalam. Bukan hanya duka, namun juga kebencian yang sangat besar kepada kaum muslim terutama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pemimpin ummat Islam.

 

Belum lagi pengalaman pahit sebelumnya yang menimpa Shafiyah beserta kaumnya yaitu Kabilah Bani Nadhir ketika diusir dari kampung halamannya di koa Madinah,

 

Berbagai kejadian di atas, tentu menggoreskan kebencian pada diri Shafiyah radhiallahu ‘anha  kepada Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana tergambar pada pengakuan Shafiyah radhiallahu ‘anha berikut ini:

انتهيت إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وما أحد من الناس أكره إلي منه

“Pertama kali aku dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku merasa bahwa tiada seorangpun di dunia ini yang lebih aku benci dibanding beliau.([4])

 

Pada riwayat lain Shafiyah radhiallahu ‘anha berkata:

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَبْغَضِ النَّاسِ إِلَىَّ قَتَلَ زَوْجِى وَأَبِى وأخي

Pada awalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling aku benci, karena ia telah membunuh suami, ayahku dan saudara kandungku.” ([5])

 

Walau demikian, sikap Shafiyah radhialahu ‘anha ini tidak bertahan lama. Sekali berkomunikasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berubah. Kebencian yang sangat mendalam sekejap berubah menjadi cinta dan kasih sayang yang terus bersemi dan abadi. Semua itu berkat dari komunikasi indah yang ia jalani bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Shafiyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha mengisahkan perubahan sikap dan perasaan beliau ini dengan berkata:

إن قومك صنعوا كذا وكذا ، فما قمت من مقعدي ذلك حتى ما كان أحد أحب إلي منه.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan alasan sikapnya dengan berkata: sejatinya kaummu telah berbuat demikian dan demikian. Beliau terus menjelaskan alasan sikapnya hingga tuntas, sehinga tidaklah aku bangkit dari tempat dudukku hingga tiada seorangpun yang lebih aku cintai dibanding beliau.  ([6])

 

bersambung ……

[1]( ) Surat  Ar Ruum ayat 21.

[2]( ) Muhammad bin Isa, Sunan At Tirmizy, Kitab: Abwaab AL Manaqib, bab: Fi Fadhli Azwaaj An Nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Juz: 5, hal: 369, hadits no: 3985,  Muhammad bin Yazid, Sunan Ibnu Majah,  Kitab: An Nikah, Bab: Husnu Mu’asyarah An Nisa’, Juz: 2, hal: 478, hadits no: 1977.

[3]( ) Muhammad bin Ismail; Shahih Bukhari, Kitab: Nikah bab : Al Khutbah, Juz : 5, hal: 1976, hadits No: 4851.

[4]( ) Ishaq bin Ibrahim, Musnad Ishaq bin Ibrahim Rahuyah, Juz: 4 hal: 260 riwayat no: 2085 & Ahmad bin Ali, Musnad Abi Ya’la, juz: 13, hal: 26, hadits no: 7114.

[5]( ) Muhammad bin Hibban, Shahih Ibnu Hibban, juz: 11/607, hadits no: 5199, Ahmad bin Husain , As Sunan Al Kubra, Kitab: As Sair Bab: Man Ra’a Qismata Al Aradhi Al Maghnumah Wa Man Lam Yaraaha, juz: 9/137. Menurut Ibnu Hajar, rentetan sanad riwayat ini semuanya tsiqah (memiliki kredibilitas tinggi).  Fathul Baari, Juz: 7 hal: 479.

[6]( ) Idem.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *